Oleh: Ratih Kumala

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan 'muslimah', melainkan 'muslim'). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa' Gym. Ingat sebelum Aa' Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai 'laki-laki yang sempurna'. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa' Gym mencoba memperbaiki 'kesalahannya' ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.
Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, 'muslim'... bukan 'muslimah') kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.
Oleh: Ratih Kumala

Mbah diperankan oleh WS Rendra dalam salah satu adegan Lari Dari Blora
Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.
Oleh: Adi Wicaksono

Setelah dikenal sebagai penulis cerita pendek, kini Djenar Maesa Ayu muncul dengan film Mereka Bilang, Saya Monyet!
Bukan sebuah kebetulan jika dalam film debutnya ini, ia bercerita perihal kehidupan perempuan penulis pula. Tentu, Djenar tidak berkisah mengenai liku-liku karier kepenulisan, melainkan sejenis paradoks yang dialami oleh seorang perempuan muda kelas menengah kota Jakarta yang mengidap trauma dan disorientasi akut.
Oleh: Adi Wicaksono

Cukup lama tidak muncul film Indonesia yang enak ditonton, tapi berisi dan memiliki kedalaman. Film The Photograph karya Nan Achnas yang sedang diputar di beberapa bioskop hari-hari ini telah mengisi kekosongan itu.
Bobot film ini sudah tampak dari sederet grant yang dimenangi selama proses pengembangan skenario maupun produksinya: Prince Claus Fund (Cinemart), Göteborg Film Fund, Fond Sud (Perancis), Swiss Fund at Open Doors Locarno Film Festival, dan Les Petites Lumières (Perancis).
Oleh: Adi Wicaksono
Meski tumbuh sebagai barang dagangan, film Indonesia hingga kini belum berhasil membangun arah dan fondasi industri yang stabil. Barangkali ini gejala umum dalam sebuah negeri dengan rancang kebudayaan dan rancang ekonomi yang berantakan.Berbeda dengan kelahiran sastra dan seni rupa modern Indonesia yang terkait dengan pergumulan ide-ide yang diyakini sebagai pendasaran baru terhadap arah perubahan sosial budaya menuju suatu visi (yang samar-samar) tentang pembentukan nasion beserta kemungkinan politik dalam tingkat praksis guna mewujudkan visi tersebut, kelahiran film Indonesia relatif tak bersentuhan dengan pergumulan semacam itu.
Sebagai bagian dari keterlibatannya dengan politik kebudayaan yang mulai menemukan momentumnya pada gerakan-gerakan ideologis yang muncul pada masanya, sastra dan seni rupa secara intrinsik juga terpaksa (berkali-kali) mempersoalkan praksis estetiknya. Film seolah berada di luar hiruk pikuk pemikiran politik kebudayaan pada masanya dan dibuat semata-mata sebagai hiburan, kelangenan, pelipur lara.